Senin, 28 November 2011

Khutbah 'Idul Adha 1432 H

HAJI DAN QURBAN NAPAK TILAS KHALILUL RAHMAN
RASULULLAH IBRAHIM AS.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَلْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ الَّذِى هَدَا نَا ِللاِيْمَانِ وَاْلإِسْلاَمِ وَاَكْرَمَنَا بِشَرِيْعَةِ نُسُكِ الْحَجَّ اِلى الْبَيْتِ الْحَرَامِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلى مَنْ اَرْسَلَهُ اللهُ مُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًا مُحَمَّدٍ وَاَهْلِ بَيْتِه الَّذِيْنَ اَذْهَبَ اللهُ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرُهُمْ تَطْهِيْرًا. أَشْهَدُاَنْ لَآإِلهَ إِللهُ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًارَّسُوْلُ اللهِ أَمَّابَعْدُ : فَقَالَ اللهُ تَعَالى فِى الْقُرْانِ الْكَرِيْمِ : إِنَّاأَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَاْلاَبْتَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِرًاوَّالْحَمْدُ ِللهِ كَشِيْرًا وَّسُبْجَانَ اللهِ بُكْرَةًوَّاَصِيْلاً. لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ اِلاَّ اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ. وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ. اَللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ.

Allahu akbar 2x Walillaahilhamdu
Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah.
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan limpahan Rahmat dan karunia-Nya, sehingga dengan qudrat dan iradah-Nya kita semua dapat dipertemukan di tempat ini untuk menunjukkan rasa ta’at dan patuh kita kepada-Nya. Dan lebih khusus lagi adanya nikmat Iman dan Islam, sehingga dengan perasaan enak dan langkah yang ringan serta kesempatan yang mudah, kita dapat berduyun-duyun menuju ke tempat ini dalam rangka untuk melaksanakan ibadah Sholat “Iedul Adha atau Idul Hajj”. Untuk itu semoga amalan kita termasuk amalan dalam rangka ibadah qurban pada hari ini khususnya dan tergolong amalan yang maqbul serta mendapatkan ridho-Nya.
Pada pagi yang cerah ini, kita berkumpul kembali di atas tanah yang lapang terbuka, kita duduk bersimpuh diatas hamparan tikar sajadah dengan beratapkan bentangan langit luas tak bertepi. Baru saja kita melakukan ruku dan sujud dengan hati khusyu’ dan tawadhu’ kita bersujud di hadapan Allah SWT kita ratakan dahi diatas tanah seraya mengucapkan Subhaana Rabbiyyal a’lla, Maha suci Tuhanku yang maha tinggi. Beberapa saat lagi setelah khutbah ini selesai kita akan menyaksikan penyembelihan hewan kurban, semua itu kita lakukan tiada lain hanya sebagai ungkapan rasa syukur kita kehadirat Allah SWT yang selalu mencurahkan Rahmat dan Karunianya kepada kita semua sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Kautsar.
            
“Sesungguhnya telah kami berikan padamu karunia yang banyak maka tegakkanlah sholat karena Tuhanmu dan sembelihlah kurban, sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus dari rahmat Allah.” (QS. Al-Kautsar : 1 – 3)

Allahuakbar 2x Walillaahilhamdu.
Berjuta-juta umat Islam dari segenap penjuru dunia pada hari ini telah berdatangan di kota Mekkah Al Mukaromah berkumpul di tanah suci melakukan ibadah haji tepatnya di Mina tengah berdesak-desakkan melempar jumroh yaitu suatu kegiatan ritual yang merupakan bagian dari rangkaian manasik haji.
Hadirin wal hadirat rokhimakumullah, maka kita yang pada saat ini belum diberi kesempatan untuk memenuhi panggilan-Nya ke tanah suci, marilah kita sambut hari yang mulia ini dengan takbir, tahlil, dan tahmid, kita siarkan kebesaran illahi, kita terima rahmat dan taufik-Nya serta kita syukuri nikmat-Nya. Maka seiring dengan realita yang sedang kita hadapi baik untuk permasalahan individu maupun permasalahan bangsa dan negara kita yang saat ini sedang menerima beberapa ujian maupun cobaan, dengan adanya beberapa musibah alam berupa banjir, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi, gelombang tsunami, angin ribut, maupun kecelakaan transportasi darat, udara dan laut juga adanya pertengkaran antar etnis yang tak kunjung henti dan beberapa problema yang sangat multi komplek lainnya, sehingga memunculkan krisis moral dan krisis multi dimensional. Padahal itu semua, terjadi ditengah-tengah situasi bangsa yang sedang mendeklarasikan perubahan yaitu bertekad untuk mewujudkan keterbukaan dengan tujuan demi kemaslahatan, kebaikan, dan kepentingan kita bersama. Maka secara historis maupun pandangan secara filosofis hal tersebut sangat sesuai dengan apa yang telah digariskan Allah pada QS. At-Taubah ayat 20.

                 
“Orang-orang yang beriman dan yang berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan jiwa mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah dan mereka itulah yang akan mendapat kesuksesan.” (QS. At-Taubah : 20)


Allahu akbar 2x Walillaahilhamdu
Ibadah dalam bentuk menyembelih hewan kurban, begitu pula ibadah haji bermula dari Millah Ibrahim AS, Millah yang lurus, Millah yang Allah mengharuskan Nabi Muhammad Saw beserta umatnya untuk mengikutinya sebagaimana firman Allah Qs. Al Imron : 95.
•        
“Maka ikutilah Millah Ibrahim yang Hanif itu dan dia bukan termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah”.

Dengan demikian haji dan kurban yang kita lakukan merupakan program napak tilas Ibrahim Khalilul Rahman. Sebagaimana kita ketahui Ibrahim As adalah seorang hamba Allah yang ideal. Dirinya merupakan lambang kepatuhan insan terhadap Khaliq-Nya seluruh hidup dan kehidupannya dipersembahkan hanya semata-mata bagi kepentingan agama Allah SWT.

Baiklah kita perhatikan gambaran pribadi Ibrahim As yang kita baca dalam Al-Qur’an dalam surat An-Nahl : 120 – 122.
•   •                            
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan Hanif. Dan sekali-kali dia bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. (Ia) selalu bersyukur atas nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya di akhirat ia benar-benar termasuk orang yang sholeh.” (QS. An-Nahl : 120 – 122)
Dalam ayat lain Allah melukiskan sebagai berikut :
      
“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (berupa perintah dan larangan), maka Ibarhim menunaikannya”. (QS. Al-Baqarah : 124)
Allahu akbar 2x Walillaahilhamdu
Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah.
Bila kita menyimak sejarah hidup Ibrahim memang betapa banyak ujian dan cobaan Allah SWT bagi hamba-Nya yang satu ini. Ibarhim As pernah dibakar kaumnya (Raja Namrud) lantaran menghina Tuhan-tuhan palsu mereka (QS. Al-Anbiya : 68 – 69). Ketika istrinya baru saja melahirkan anak yang sangat didambakan, Allah menyuruh Ibrahim agar menempatkan anak dan istrinya di suatu lembah yang sepi tiada pepohonan (QS. Ibrahim : 37) dan masih banyak lagi. Sedangkan yang terakhir dikala usianya sudah sangat lanjut ia diperintahkan Allah SWT berkurban dengan meyembelih putranya Ismail dengan tangannya sendiri. Agaknya dari seluruh ujian dan cobaan Allah, ujian untuk menyembelih putranya merupakan ujian terberat bagi dirinya, betapa tidak Ismail yang harus dikorbankan itu adalah satu-satunya keturunan Ibrahim saat itu. Ismail diperoleh dari pernikahannya dengan Sayyidah Hajar yang diharapkan menjadi pelanjut perjuangannya. Ismail amat dicintainya karena ia menjadi jatung hati, sibiran tulang, kini ia harus mengkorbankannya, sungguh suatu cobaan yang amat berat. Namun karena Ibrahim telah berikrar.
•                •  
“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam. Tiada sekutu bagi-Nya demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama menyerahkan diri (kepada-Nya)”. (QS. Al-Anam : 162 – 163)

Maka perintah itupun dilakukannya tanpa sikap membantah sedikitpun. Demikian pula putranya Ismail, dia merelakan diri untuk menjadi kurbannya. Tentang kepasrahan Ibrahim dan Ismail serta kepatuhannya pada perintah Allah marilah kita simak dialog keduanya sesaat sebelum perintah itu dilaksanakan.
                            
“Maka ketika Ismail telah sampai usia sanggup berusaha bersamanya. Ibrahim berkata : Wahai anakku sesungguhnya akau bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Coba pikirkanlah bagaimana pendapatmu? Ismail menjawab : Wahai ayahku lakukanlah apa saja yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah akan kau dapatkan aku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. Ash-Shofat : 102)
Sungguh mengharukan sekaligus mengagumkan mereka pasrah berserah pada perintah Allah kendatipun bertentangan dengan perasaannya, akan tetapi karena Allah SWT hanya bermaksud menguji terhadap kepatuhan Ibrahim maka setelah betul-betul terbukti bahwa Ibrahim siap melakukan apa saja yang diminta Allah. Allah segera mengganti dengan sembelihan lain. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ash-Shofat : 103 – 107.
                           
“Ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan Ismail atas pelipisnya (nyatalah kesabaran keduanya) dan kami panggil dia : Ya Ibrahim sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat kebajikan. Sesungguhnya itu benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.

Dari peristiwa inilah ibadah kurban dalam bentuk menyembelih hewan itu dimulai.

Allahu akbar 2x Walillaahilhamdu.
Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah.
Ibadah kurban terlepas dari ikhtilaf para fuqoha mengenai hukumnya, tetapi yang jelas ibadah kurban mempunyai beberapa keutamaan, berikut ini akan khotib sebutkan beberapa hadits Rasulullah Saw mengenai hal itu, diriwayatkan Ad-Daruqutnhi dari Ibnu Abbas ra, sesungguhnya Rasulullah Saw telah bersabda.
مَااُنْفِقَتِ الْوَرْقُ فِى شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ نَحِيْرَةِ فِى يَوْمِ عِيْدٍ
“Pada hari Idul Adha, tiada infaq uang yang lebih utama daripada ibadah kurban”.

Imam Ahmad dan Ibnu Madjah meriwayatkan dari Zaid Ibnu Arqom. Ketika para sahabat bertanya perihal ibadah kurban, beliau menjawab “Kurban merupakan sunah ayah kalian Ibrahim As.” Ketika ditanya apa keuntungannya bagi yang melakukannya, Rasulullah menjawab :
بِكُلِّ شَعْرَةٍ مِنَ الصُّوْفِ حَسَنَةٌ
“Setiap lembar dari bulu hewan kurban dinilai sebagai satu kebajikan”.

Bahkan menurut hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang sama disahihkan pula oleh Imam Hakim Rasulullah Saw mengutuk orang kaya yang tidak menyembelih hewan kurban dengan cara melarang mereka untuk mendekati tempat sholat Rasulullah Saw. Yang dimaksud dengan tempat sholat Rasulullah adalah masjid.
مَنْ وَجَدَ سِعَةً فَلَمْ يُضَحَّ فَلاَ يَقْرَ بَنَّ مُصَلاَّنَا
Demikianlah besar keutamaan hewan kurban sampai sahabat Rasulullah yang bernama Bilal Ibnu Rabah, karena tidak mampu menyembelih seekor kambing ia berkurban dengan seekor ayam jantan. Begitu pula Ibnu Abas ra, ia pernah berkorban dengan daging beberapa kilogram yang dibeli pelayannya dari pasar.

Hadirin kaum muslimin rokhimakumullah.
Mengingat betapa tinggi nilai ibadah kurban dalam pandangan Islam maka khotib yakin tak ada seorangpun diantara kita yang tidak berniat untuk melaksanakannya. Namun perlu juga khotib ingatkan hendaknya mencari ridho Allah atau ikhlas, senantiasa menyertai ibadah kita. Termasuk ibadah kurban, sebab hanya kurban yang disertai dengan niat seperti itu saja yang akan bernilai di hadapan Allah SWT.
Firman Allah surat AL-Hajj ayat 37 :
لَنْ يَّنَالَ اللهَ لَحُوْ مُهَا وَلاَدِ مَآءُهَا وَلكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوى مِنْكُمْ
“Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhoan Allah akan tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

Selain itu perlu diingat bahwa dalam ibadah kurban terkandung makna yang sangat dalam, apa yang mesti dilakukan kaum Aghniya terhadap saudaranya yang miskin. Semoga kita semua menyadarinya. Dalam hadits qudsi diriwayatkan bahwa nanti pada hari kiamat, Allah SWT mendakwa hamba-hambanya : Hai hamba-hambaku, dahulu aku lapar, dan kamu tidak memberiku makanan. Dahulu aku telanjang dan kamu tidak memberi ku pakaian. Dahulu aku sakit dan kamu tidak memberi ku obat. Waktu itu yang didakwa bertanya : Ya Allah bagaimana mungkin kami memberi makanan, pakaian dan obat padahal engkau rabbul ‘aalamiin kemudian Allah berfirmaan : Dahulu ada hambaku yang lapar, telanjang dan sakit. Sekiranya kamu mendatangi mereka (mengenyangkan perut mereka yang lapar, memberi pakaian pada mereka yang telanjang dan memberi obat kepada mereka yang sakit) pasti kamu akan mendapatkan aku di situ.

Hadirin kaum muslimin rokhimakumullah.
seperti yang telah khotib katakan bahwa bersamaan waktunya dengan saat ketika menyembelih kurban di sini. Di Mina saudara kita kaum muslimin tengah berdesak-desakan melempar jumroh. Kemarin ketika di sini kita melaksanakan Shaum Arafah mereka wukuf di Padang Arafah. Pada pagi harinya mereka masih sebagian berjalan mendaki gunung Jabal Rohmah mengenang perilaku Rasulullah SAW, sebagian lagi sekedar berjalan-jalan menyaksikan Muktamar alam Islami. Namun begitu matahari tergelincir adzan Dzuhur berkumandang mereka serentak menghentikan segala kegiatan kecuali Takbir, Tahmid, dan Tahlil. Mulut-mulut yang semula berbicara dengan beragam bahasa, ini hanya menggemakan kalimah yang sama yaitu kalimah talbiyah.
لَبَّيْكَ اَللّهُمَّ لَبَّيْكَ, لَبَّيْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ اِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَا الْمُلْكَ, لاَ شَرِكَ لَكَ
“Ya Allah, kami datang memenuhi panggilan-Mu. Kami datang memenuhi panggilan-Mu. Kami datang memenuhi panggilan-Mu, tiada syarikat bagimu, kami datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, karunia, dan kerajaan adalah kepunyaan-Mu. Tiada sekutu bagimu”

Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la, Al-Bazar dan Ibnu Khuzaimah dari Jabir r.a. saat itulah Allah SWT. Turun ke langit dunia, sambil membanggakan mereka di hadapan penduduk langit. Saat itu pula Allah SWT, menginagurasi jamaah haji.
Ketika wukuf, juga dalam seluruh rangkaian ibadah haji, mereka sulit dibedakan mana raja dan mana rakyat, mana si kaya dan si miskin. Mana ilmuwan dan masyarakat awam. Karena semuanya memakai pakaian yang sama. Sehelai kain putih tanpa berjahit.
Ibadah haji mengingatkan kita akan Rasulullah SAW :
لَيْسَ الْعَرَبُ بِخَيْرٍ مِنْ أَعْجَمِيٍّ وَلَيْسَ اْلأَحْمَرُ بِخَيْرٍ مِنْ أَسْوَدٍ أَنْتُمْ مِنْ آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ. إِنَّ أَكْرَ مَكُمْ عِنْدَ اللهِ اَتْقَاكُمْ
“Orang Arab tidak lebih mulia dari yang bukan Arab. Orang kulit merah (putih), tidak lebih mulia dari orang berkulit hitam. Kamu berasal dari Adam. Adam diciptakan dari tanah. Sesungguhnya orang paling mulia di antara kamu, adalah yang paling takwa kepada Allah SWT.

Hadirin kaum muslimin rokhimakumullah.
Islam sebagai agama langit, bukan hanya mengajarkan kesamaan derajat manusia di hadapan Allah SWT. Akan tetapi juga mengutuk sikap mental, yang melebihkan satu kelompok manusia di atas kelompok yang lain.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW. berkunjung ke sebuah masjid yang berada jauh di luar kota Madinah. Ketika itu beliau tidak melihat si kulit hitam, yang biasa bekerja membersihkan masjid.

Kemudian beliau bertanya kepada jamaah yang berada di tempat tersebut ; “Mengapa si Fulan tidak bekerja”
مَافَعَلَ ذلِكَ اْلاِنْسَانُ
Mereka menjawab, “Ia telah meninggal dalam beberapa hari yang lalu Ya Rasulullah”
هُوَ مَاتَ مُنْذُ اْلاَيَّامِ
Mendengar jawaban tersebut Rasulullah SAW sangat marah, lalu bertanya lagi dengan nada menyalahkan : “Mengapa hal itu tidak kamu beritahukan kepadaku?” Dengan sikap merendah ; para sahabat menjawab. “Ya Rasulullah, ia begini dan begitu”. Agaknya dengan jawaban begitu, mereka berharap agar Rasulullah SAW. tidak terlalu menaruh perhatian kepada orang hitam itu. Namun, tidak demikian halnya dengan Rasulullah SAW. Bahkan beliau minta agar mereka mau menunjukkan kuburan orang itu. Sesampainya ke tempat yang dituju, Rasulullah SAW. berdiri di atas kuburnya dan berdoa. Kemudian beliau melakukan shalat ghaib.
Bayangkan hadirin, Rasulullah SAW. sepanjang hidupnya tidak pernah berkunjung ke makam para raja, akan tetapi, diatas kuburan seorang kulit hitam, yang pekerjaannya hanya sebagai penyapu beliau berdiri, berdoa dan shalat ghaib.
(Betapa indah teladanmu, Ya Rasulullah. Sungguh agung pribadimu, ya junjungan. Pantas kalau Allah memilih engkau sebagai ‘Uswah hasanah” bagi kami).

Hadirin kaum muslimin rokhimakumullah
Islam mengajarkan agar kita memandang kedudukan manusia itu sama dan sederajat, berarti pula Islam melarang kita bersikap membeda-bedakan mereka, dengan memuliakan yang seorang dan menghinakan yang lain, atau dengan politik belah bambu, yang satu diangkat tinggi-tinggi dan yang lain diinjak-injak. Demikian dalam kehidupan sehari-hari, begitu pula dalam kehidupan bernegara.
Karena itu, jika seseorang melanggar hukum, apakah ia dari kelompok rendah maupun kalangan elite, pejabat atau rakyat, ilmuwan atau masyarakat awam, mesti mendapatkan sanksi hukum, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Rasulullah SAW. diminta agar memberikan dispensasi hukum bagi wanita Mahzumiyah, berupa pembebasan had potongan tangan. Beliau menolak dan bersabda :
أَيُّهَاالنَّاسُ إنَّمَا هَلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ اَنَّهُمْ كَانُوْا اِذَاسَرِقَ مِيْهِمُ الشَّرِيْفَ تَرْ كُوْهُ. وَاِذَاسَرِقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفَ اَقَامُوْا عَلَيْهِ الْحَدَّ متفق عليه واللقظ اسلم
“Wahai manusia, sesungguhnya kehancuran umat terdahulu maupun yang akan datang adalah karena mereka membiarkan pencuri dari kalangan elite. Tetapi apabila si pencuri itu dari kalangan rendah, mereka tegakkan kepadanya hukuman had”

Hadirin kaum muslimin rokhimakumullah
Demikianlah khotbah yang khotib sampikan dalam kesempatan ini, semoga ada guna dan faedahnya. Akhirnya marilah kita memanjatkan doa kepada Allah SWT semoga kita senantiasa dalam lindungan-Nya.
Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin hamdan yuwaafii ni’amahuu wa yukaafiiu maziidahuu yaa rabbanaa lakal hamdu kamaa yanbaghii lijalaali wajhika wa’adhiimi sulthoonika Allahumma sholli ‘alaa muhammadin wa’alaa ali muhammad, Ya Allah kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan diri kami. Dari semua tiran yang durhaka, dari semua penguasa yang kejam dan dari semua musuh yang dominan.
Ya Allah jadikanlah kami diantara pasukan-Mu, karena hanya pasukan-Mu sajalah yang memperoleh kemenangan. Jadikan kami diantara kekasih-kekasih-Mu sebab hanya kekasih-Mu saja yang tidak akan mendapat kecemasan.
Ya Allah, baikkan agama kami, karena itulah sandaran segala urusan kami. Baikkan akhirat kami, karena itulah tempat kembali kami. sebagai tempat istirahat dari kejelekan.

اَللّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَ تَنَا وَصِيَامَنَا وَرُكُوْ عَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَ نَا وَتَضَرُّ عَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَااللهُ يَارَبَّ الْعلَمِيْنَ. رَبِّ اجْعَلْنِى مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَتِى رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ رَبَّنَا اغْفِرْلِى وَلِوَلِدَىَّ وَلِلْمُؤْ مِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَ ِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِيْمَانِ. وَلاَ تَجْعَلْ فِى قُلُوْ بِنَا غِلاً لِلَّذِيْنَ امَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar